Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya merupakan semboyan yang terus dan selalu disampaikan oleh bapak guru pada murid – muridnya agar bisa sukses dikemudian hari. Pelajaran itupun aku terima bersama sama temanku di bangku Madrasah. Namun aku saat kecil hingga Madrasah hanya merasakan suasana yang berbeda dengan anak – anak seusiaku, aku mendapat perlakuan khusus dan luar biasa dari nenek yang mengasuhku. Aku harus sekolah dengan uang saku yang pas cukup beli jajan saja ( bentuk agar bisa hemat), Mencari kayu Bakar ( bentuk kerja keras ), Ngaji (bentuk pendalaman ilmu agama), Belajar Malam ( bentuk persiapan belajar sekolah agar sukses). Kesemua bentuk pembelajaran kedisiplinan saat itu bagiku hanyalah tindakan penekanan pada anak kecil yang ditinggal oleh Bapaknya dan ibunya sendiri sudah nikah. Sejak duduk di kelas 3 Madrasah aku baru sadar akan posisiku yang harus diasuh oleh nenek yang tak didampingi lagi oleh kakekku ( meninggal pada aku berusia 1 tahun ). Kondisi ini membuat aku menerima dan menjalani hidup sesuai yang diharapkan nenek. Nenekku ternyata seorang pekerja keras yang tangguh, dengan ditinggal suaminya beliau mampu menanggung beban 6 anaknya ( 4 putra dan 2 putri ) dan 1 cucu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment